David vs Goliath

David vs Goliath

Pernah dengar kan cerita tentang David (Daud) dan Goliath? Si kecil yang menang melawan si besar. Selain faktor relijius, dalam cerita tersebut diceritakan juga tentang upaya David yang lebih baik ketimbang Goliath. Cerita ini adalah analogi yang baik untuk sharing yang akan disampaikan.

David vs Goliath

Valudata Komputindo (VK) pernah menangani dua perusahaan, katakanlah A dan B, yang sama-sama berskala nasional. Sekalipun demikian, A dan B bukanlah ‘lawan’ yang seimbang. Dari segi operasional, pasar, kapitalisasi dan revenue A jelas hanyalah David sedang B adalah Goliath. Tetapi pengalaman kami bekerja sama jelas menunjukkan bahwa A memang seorang David yang bisa menang lawan B si Goliath.

Pada bagian awal VK membangun sistem untuk mereka segalanya hampir serupa. Requirement yang ketat, menghadapi berbagai lapis pertanyaan dari berbagai departemen, jadwal yang terperinci dan juga berbagai security issues. Tapi seperti juga pengalaman mengajarkan setelah tahap development itulah bagian yang menentukan.

Testing sistem di A dilakukan dengan pelototan mata para ahli, mulai dari software, jaringan, alur bisnis hingga audit. Lingkungan production benar-benar steril hingga testing dan piloting selesai. Bahkan untuk pertama kalinya, VK harus ‘menanam’ orang untuk membantu mengawasi sistem. Setelah babak belur di masa testing dan piloting, cerita belum selesai. Saat implementasi, VK masih harus mengawal saat awal implementasi. Bolak-balik antar kota menjadi kegiatan yang tidak asing sekalipun tentunya, personel dari perusahaan A mendukung penuh. Hasilnya, jujur saja, sangat memuaskan. Sistem berjalan mulus. Bahkan pihak A sempat melakukan sedikit tweak untuk menyesuaikan dengan kondisi terbaru.

Hal yang berbeda terjadi di B. Testing dilakukan hanya dari sisi software. User bahkan tidak mencoba sama sekali. Manajer yang tidak terkait langsung bahkan memberi pendapat semaunya. Go Live hendak dilaksanakan tanpa piloting yang memadai. Proses transisi dari Development ke Production tidak mulus, i.e.: tidak ada akses internet, komputer server yang tidak jelas, yang paling celaka adalah tidak ada dukungan sehingga ketika implementasi awal sistem down karena masalah teknis (yang sampai detik ini belum diketahui kenapa) sehingga proses gagal sama sekali. Sangat mengecewakan. Dan bahkan ketika tulisan ini dibuat, perusahaan B belum menggunakan sistem yang dibangun secara penuh karena koordinasi di tingkat user yang kacau. Belakangan baru diketahui, ada persaingan antar departemen atas sistem yang dibangun, sehingga terjadi keengganan untuk mengimplementasikan. Alamak!

Jika harus menilai dari kerjasama yang sudah dilakukan, maka A menang telak dari B. Hasil yang sangat mengejutkan. Pantas saja beberapa saat setelah mengimplementasikan sistem kami, A dianggap cukup seksi untuk diakuisisi oleh salah satu player yang berkembang pesat di industrinya. Sedangkan B, untuk perusahaan sekaliber mereka, bisa dibilang stagnan. Sepanjang yang diketahui masyarakat, mandeg-nya perkembangan B ini berlangsung hingga puluhan tahun.

Bottom line? Perusahaan kecil kayak David tidak perlu takut untuk melawan perusahaan besar seperti Goliath. Dari tiga hal yang bisa jadi diferensiasi, content, context dan enabler, IT dapat menjadi enabler yang sangat kuat. Cari keunggulan atau keunikan yang ingin dicapai, konsultasikan dengan konsultan IT seperti Valudata Komputindo (iklan boleh dong) dan coba untuk melaksanakan itu dengan baik. Eventually, kalau anda David, anda bisa menang lawan Goliath. Perusahaan A itu contohnya.

Tinggalkan Pesan

© 2017 Valudata Komputindo | ScrollMe by AccessPress Themes